01 : Bandung - Jakarta
Seorang gadis manis sedang bergulung di bawah selimut tebal, hujan mengguyur kota tanpa henti sejak tadi malam. Hujan turun dengan derasnya seakan tau apa yang sedang gadis itu rasakan. Gadis itu masih berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya dari lampu kamarnya, karena dia sangat tidak terbiasa kalau tidur harus dengan keadaan lampu yang padam. Lalu ia bergegas berwudhu untuk kemudian shalat subuh. Minggu, hari ini adalah hari terakhir dia dirumah neneknya dan akan kembali tinggal bersama keluarga kecilnya. Karena, selama ini dia tinggal bersama Kakek dan neneknya, tapi karena kakeknya sudah pensiun jadi beliau bisa menemani sang istri dirumah, jadi gadis itu bisa kembali tinggal bersama keluarganya. "Ade Bulan, udah shalat sayang?" Panggil sang nenek lembut "Udah nin, ini lagi dzikir pagi" Jawab Gadis manis itu, "Yaudah nanti kalo udah selesai Langsung turun ya geulis, nin udah bikinin susu anget sama pisang goreng kesukaan kamu. Kita sarapan bareng engki dulu" Katanya lagi, "Siap ninku sayang, ade beresin dulu ya, dikit lagi" Sahutnya.
Setelah selesai dzikir pagi, gadis itu segera turun menuju taman belakang. Rumah ini adalah rumah dengan gaya rumah-rumah tempo dulu yang besar, dan sangat banyak ruangan juga lorong. Di taman belakang banyak bunga-bunga warna-warni yang di tanam dan di rawat oleh Nin. Gerimis masih mengguyur kota tanpa henti. Kalau tidak gerimis, biasanya mereka sarapan di saung deket kolam ikan di taman belakang itu. Iya, berempat ada om bungsu yang belum menikah dan masih tinggal bersama Nin dan Engki, namanya Surya. Yang kalau Bulan lagi jail, sukanya manggil Om Surya dengan sebutan Kasur. Surya dan Bulan adalah komposisi yang bisa membuat suasana menjadi rame dengan ejek-ejekannya. Kalau ada Bulan, Surya selalu merasa posisinya terancam. Tapi, kalau Bulan tidak ada Surya selalu merindukan gadis manis itu. Disaat lelaki lain mengenalkan pasangannya kepada sang ibu, lain hal dengan Surya dia malah akan mempertemukan Pasangannya pada Bulan sebelum pada ibunya. Bulan adalah cucu kesayangan Nini dan Engkinya. Juga kesayangan om Bungsunya.
Udara pagi begitu menusuk karena hujan hadir di tengah-tengah antara langit dan mentari. Nin masih menggunakan Mukena Putihnya, Engki dengan setelan sarung dan sweater rajut birunya hadiah ulang tahun dari Bulan, Surya dengan treanning juga hoodie hitam. Bulan akan sangat merindukan tradisi sarapan bareng di taman belakang ini. Bulan menghampiri mereka dengan riang tidak lupa untuk memeluk satu persatu yang sedang duduk di teras sana. "De, ga ngeberesin SMA disini aja? nanti tinggal dirumah ibunya pas kuliah aja" Ujar Surya memastikan "Om, aku kan udah mengundurkan diri dari sekolah, terus udah daftar di sekolah Abang. Masa tiba-tiba ga jadi pindah sih?" Kataku "Yaudah pindah sekolah aja, tapi tinggal masih disini gimana de?" Katanya lagi, memaksa "Jauh dong Bandung Jakarta pulang pergi gitu om? cape dong aku. Gapapa ya om ade pindah? kita sering ketemu kan? Nanti kuliahnya aja deh ade di Bandung lagi. Nanti bareng Abang juga di Bandungnya" kataku lagi "Sur sur, kamu mah adenya udah mau pergi aja di tahan, kemarin-kemarin suka nyuruh jangan pulang" Engki ikut buka suara dan terkekeh "kaya yang si ade teh mau kemana aja atuh kamu mah sur" Sambung Nini. Sarapan hari ini sangat hangat, tidak ada Surya yang menyebalkan dan tidak ada Bulan yang jail. Jauh dilubuk hati Nini dan Engki, sebenernya tidak rela kalau cucu kesayangannya berpisah dengan mereka. Tapi mau gimana lagi? Selesai sarapan, Bulan langsung siap-siap buat pulang kerumahnya.
Nin itu adalah Nini, engki adalah aki. Panggilan untuk nenek dan kakek dalam bahasa sunda. Nin Sari sama Engki Wahidin selalu manggil Dia Geulis yang berarti Cantik. Karena kata engki, "panggilan adalah do'a dan kita mau cucu-cucu kita menjadi seseorang yang berparas cantik, tampan, baik, pinter, hebat, kuat. Makanya engki selalu manggil geulis, bageur, kasep. Karena engki,nini selalu ingin hal itu ada pada diri kalian semua". Engki itu amat sangat tegas, beliau sangat keras dalam mendidik anak terlebih perihal agama. untuk cucu-cucunya, Engki dan Nini adalah pasangan terromantis yang ada di dunia ini. Engki selalu memanjakan cucu-cucunya tapi ga segan juga untuk keras sama cucu-cucunya, Bulan dan abangnya adalah cucu yang paling disayang, karena cucu pertama dan yang paling di harapkan kehadirannya setelah anak dan menantu engki dan nini yang kegguguran disaat yang bersamaan.
Bulan duduk di tepi kasurnya, ia memperhatikan setiap sudut dan detail dari kamarnya, kamar bernuansa teal yang di padukan dengan warna cedar dan putih. Kamar yang sudah menemaninya lebih dari 5tahun ini akan ia tinggalkan, rasanya berat, kamar ini menjadi saksi bisu dalam setiap cerita Bulan, kamar yang selalu di penuhi gelak tawa dia dan teman-teman SMPnya, kamar yang biasanya digunakan untuk menumpahkan segala isi hatinya.
Jam 9 pagi, Riki sudah datang untuk menjemput Bulan dan jalan-jalan bareng. Hari ini adalah hari terakhir Riki dan Bulan sebelum menjalani cerita LDR nya. "Nanti juga aku mau pindah ke Jakarta tau yangg, kemungkinan sih semester depan kalo engga ya kenaikan kelas. Kita jadi bisa satu sekolah lagi deh Sayang" ujar Riki tiba-tiba "Oh iya? Bagus dong" jawab Bulan, matanya masih tertuju pada smartphone miliknya karena kakak lelakinya lagi-lagi mengirimi dia pesan. "Kamu dengerin aku ga sih? Respon kamu gitu banget tau aku mau nyusul? Kenapa? Ga seneng?" Kesal Riki "apasih ki? Ini aku lagi jawabin chat Aris sama om Surya dulu!" Jawab Bulan Sebal, dan memperlihatkan room chat antara Bulan dan kakak lelakinya "halah! Gagal selingkuhkan kamu?!" Teriak Riki tiba-tiba, tangannya mencengkram pipi gembil milik Bulan, nafasnya memburu "udah ada niatan selingkuh? Murahan lo!" Teriaknya lagi, satu tetesan air mata lolos dari mata Indah Bulan, dia tidak berani melawan, Riki melepaskan cengkramannya, setengah mendorong Bulan kearah pintu mobil "udah lah males gue! Turun aja lo disini!" Bentak Riki lagi, Bulan turun, dan Riki tancap gas begitu saja.
Braga siang itu ramai sekali, Bulan memutuskan mampir di coffeeshop supaya dirinya tenang dulu baru pulang. Bulan duduk tepat menghadap keluar, menampakan jalanan Braga yang penuh dan ramai. Tanpa disadari, beberapa orang lelaki memasuki coffeeshop itu juga, matanya tak pernah terlepas dari Bulan. Salah satunya adalah Riki, kekasih Bulan. Tak berselang lama, lima orang lelaki masuk kedalam coffeeshop itu lagi. Di meja ujung, teman-teman Riki sedang memaksa Riki untuk mengajak Bulan bergabung di mejanya. Hingga satu diantara lima orang itu duduk tepat di meja Bulan.
"Hai Bulan, masih inget gue kan? Gue Genta sahabatnya Polaris" Katanya "oh hai, lagi liburan?" Tanya Bulan, "gue ikut jemput lo di ajakin om Orion, sama temen-temen juga. Gue kira lo lagi bareng pacar lo, soalnya tadi kata Aris lo lagi bareng pacar lo" "oh engga, dia ada urusan katanya" jawab Bulan sekenanya, Bulan tau Riki ada di caffee yang sama dengannya. Tak berselang lama, dari arah pintu datang Ilayya, Freya dan Libra. "Bulan!! Gila kali pacar kamu ninggalin kamu gitu aja, emang ya dasar cowok brengsek!!" Kesal Libra, begitu dia pertama kali melihat wajah sepupu sekaligus sahabatnya, Bulan. "Kamu oon apa bego sih Lan? ah udah berbusa mulut kita ngomongin kamu, nasehatin kamu. Tetep aja ujung-ujungnya balik lagi ke si brengsek!" Freya, manusia paling sabar yang pernah Bulan temui kini sudah hilang kesabaran dan kalau bisa, rasanya Freya ingin sekali memukul kepala Bulan, karena siapa tau Bulan sadar setelah itu. "Eh sumpah ya, Lan kalo bisa gue pengen banget jedotin kepala lo ke tiang listrik!" Kesal Ilayya. "Jadi lo di tinggalin Riki di tengah jalan gini de?" Tanya sebuah suara yang sangat familiar di kuping Bulan. Bulan bungkam, semuanya diam. "Hai Polaris!!" Sapa Libra "Hallo Libra! Lo sepupu yang paling ga bisa bohong sama gue! Ceritain semuanya ga?" Jawab Polaris "Masa iya gue ceritain depan temen-temen lo? Kasian Bulan, ntar ajalah aku ceritainnya" Jawab Libra "Libra, lo lagi mau apa? ayo bilang aja, gue beliin deh. Gue anterin lo ke tokonya sekarang juga!" Kata Polaris mantap "Mau tas Fossil boleh?" tanya Libra "Gue sama Bulan mau beliin lo tas yang lo mau buat kado ulang tahun lo yang masih jauh itu" Kata Polaris "Seriusan?!" "Iya, asal lo ceritain semuanya" Kata Polaris "Yaudah" Akhirnya Libra menceritakan semuanya, benar-benar semuanya. "Bajingan!!" Kata pertama yang dilontarkan oleh Polaris "emang udah lama gue pengen hajar itu cowok, kalau dia bukan pacar ade gue, abis dia sama gue sama om bungsu" Sambung Polaris, tangannya mengepal, rahangnya mengeras. "Secantik ini, di sia-siain? Kalo gue jadi si Riki-Riki itu udah gue puja-puja nih pasti" "Jangan mau sama kumpulan peta dunia, mending sama Gue aja Rigel si ganteng kalem dari -" "Goa hantu!" Kesal orang yang dipanggil kumpulan peta dunia. Selesai bertukar cerita dan Polaris menepati janjinya, sekarang sudah waktunya Bulan untuk berpamitan pada Bandung dan semua cerita yang sudah pernah di torehkan di dalam ribuan lembaran kertas.

Komentar
Posting Komentar